Catatan:
Kombes Pol. Dr Andry Wibowo Sik MH Msi

Solidaritas sosial sejak awal menjadi spirit kebangsaan nasional Indonesia. Soekarno selaku peletak gagasan Pancasila menyebutkan intisari dari Pancasila adalah sebuah negara yang didalamnya hidup masyarakat dalam spirit gotong royong.

Fundamental gagasan besar gotong royong yang digagas oleh Soekarno tidak terlepas dari perenungan mendalam bertahun tahun sebagai pencarian dari prinsip dasar sebuah negara baru bernama Indonesia. Sebuah negeri yang terdiri dari masyarakat yang beraneka suku, banyak golongan, memiliki beragam keyakinan, berketuhanan dan beragama yang hidup dalam wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga pulau Rote.

Gotong royong yang didalamnya terkandung spirit solidaritas tanpa memandang SARA menjadi cita cita besar Soekarno dan para pendiri bangsa. Sebuah nilai bersama yang jika digali lebih dalam memiliki makna luas terkait dengan sikap empati, toleransi, saling menghargai dan menghormati, bekerja sama, bertanggung jawab, penuh optimisme dan menghindari sikap sikap egoisme, arogansi, eksklusif, individualisme, pesimisme sebagai warga negara Republik Indonesia.

Begitu hebatnya gagasan dasar gotong royong dari prinsip Pancasila yang digagas para pendiri bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa mimpi besar para pendiri bangsa adalah Indonesia merdeka yang rakyatnya rukun, memiliki rasa tepo seliro, tanggung jawab, rela berkorban dan mau bekerja sama untuk menggapai Indonesia yang adil dan makmur. Kesejahteraan bagi semua warga negara berdasarkan kepatuhan terhadap hukum berlandaskan kesadaran bersama serta penghukuman sebagai optimum remedium.

Sebagai seorang tokoh besar, perenungan prinsip gotong royong oleh Soekarno merupakan hasil kajian yang mendalam dari beragam gagasan besar kehidupan sosial politik dan ekonomi yang tumbuh dan berkembang didalam masyarakat nusantara. Gagasan yang berlawanan dari konsep demokrasi liberal versi barat yang melahirkan masyarakat, dengan kehidupan sosial, politik dan ekonomi, yang dikuasai oleh kaum pemodal.

Gagasan gotong royong ini juga menolak chauvinisme yang didasari fanatisme sempit kelompok yang merasa lebih segalanya dibandingkan kelompok lain. Prinsip gotong royong Soekarno sejalan dengan prinsip peradaban yang lahir dari nilai nilai universalisme filsafat keagamaan yang mengedepankan budaya kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam mencapai cita cita kemanusiaan yang hakiki.

Dalam menghadapi situasi pandemi, para pemimpin diseluruh dunia, termasuk pemimpin nasional kita, telah menegaskan kembali sikapnya untuk menumbuhkan spirit solidaritas sosial diantara seluruh umat manusia guna membendung penyebaran Covid 19. Virus yang memiliki daya rusak sistemik semua sendi bernegara dan berbangsa.

Solidaritas sosial dalam konteks ini tentunya harus diawali dengan membangun disiplin kolektif bangsa, yang nampak dari kepatuhan terhadap semua kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid 19. Ancaman ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini juga menuntut kesabaran dari seluruh masyarakat dunia, untuk menjalani seluruh proses kehidupan ke depan sesuai dengan protokol kesehatan.

Upaya meringankan beban ekonomi masyarakat adalah bentuk nyata solidaritas sosial yang telah banyak dilakukan hampir semua komponen bangsa. Namun tanpa kepatuhan terhadap kebijakan yang berkaitan dengan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) yang membatasi pergerakan orang dan kerumunan serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan, kepedulian antar sesama itu menjadi kurang bermakna. Karena sejatinya, yang kita hadapi hari ini adalah persoalan kesehatan, penyebaran virus Covid 19 yang mematikan,

Sekali lagi solidaritas sosial melalui sikap gotong royong untuk bersama sama mentaati kebijakan protokol kesehatan pemerintah sebagai wujud kepatuhan kepada hukum dan dasar negara (law abiding citizen) adalah kunci utama bangsa ini keluar dari krisis kesehatan.

Solidaritas sosial yang menyeluruh dalam sikap gotong royong untuk melawan pendemic Covid 19 ini menegaskan keteguhan seluruh anak bangsa untuk melewati masa krisis. Kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat yang memiliki satu sikap dan tindakan untuk menyelamatkan nasib negara tanpa pamrih.

Pandemi Covid 19 menguji nasionalisme kita sebagai satu bangsa yang didirikan berdasarkan prinsip solidaritas sosial (gotong royong). Apalagi di penghujung bulan ramadhan yang mengajarkan kita tentang pengendalian diri (hawa nafsu), sebagai jihad akbar dalam ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Idul Fitri sebagai puncak kebersihan hati, yang disempurnakan dengan zakat fitrah sebagai manifestasi solidaritas sosial, menjadi spirit bagi seluruh komponen bangsa untuk dapat mengalahkan Covid 19. Dengan kekuatan gotong royong kita tutup ramadhan tahun ini, dan kita sambut 1 Syawal 1441 H dengan penuh rasa prihatin yang sekali lagi membutuhkan solidaritas dari kita semua. Mohon maaf lahir dan batin.

https://suara-phasivic.com/wp-content/uploads/2020/05/IMG_20200523_073129.jpghttps://suara-phasivic.com/wp-content/uploads/2020/05/IMG_20200523_073129-150x150.jpgHukumPOLRISosial BudayaSurat RedaksiTokohCatatan: Kombes Pol. Dr Andry Wibowo Sik MH Msi Solidaritas sosial sejak awal menjadi spirit kebangsaan nasional Indonesia. Soekarno selaku peletak gagasan Pancasila menyebutkan intisari dari Pancasila adalah sebuah negara yang didalamnya hidup masyarakat dalam spirit gotong royong. Fundamental gagasan besar gotong royong yang digagas oleh Soekarno tidak terlepas...